Selasa, 22 Mei 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH SEKSUAL FETITISME DAN FROTTEURISME 200000000 orang yng menyukai ini

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN  
DENGAN MASALAH SEKSUAL FETITISME DAN FROTTEURISME
MA:Konsep Dasar Manusia
Dosen:Ibu Patria Asda







Disusun oleh:
            Indar Wulan Oktaviana          D3 Kp 11.00172
            Naomi Madi Didu                   D3 Kp 11.00
            Rini Ayu Nendra                    D3 Kp 11.00180
            Riza Dwi Kurniawan              D3 Kp 11.00181
            Tri Hesti Anawati                   D3 Kp 11.00185
            Bayu Ade Nugroho                D3 Kp 11.00193

PRODI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA HUSADA YOGYAKARTA
2011/2012


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan karunia-Nya yang dilimpahkan kepada kami, sehingga kami dapat berhasil menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KLIEN MASALAH SEKSUAL FETITISME DAN FRONTITERURISMEMakalah ini dibuat dengan maksud untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah KONSEP DASAR MANUSIA.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam penulisan maupun dalam penyusunan makalah ini, mengingat kemampuan yang terbatas serta sempitnya pengetahuan, maka akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi teman-teman maupun semua pihak yang membutuhkannya. kami juga menyadari kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka diharapkan kritik dan sarannya yang membangun demi kesempurnaan makalah ini sangat kami harapkan.
      
Yogyakarta,   Desember 2011

Penyusun
                                                             











BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Latar belakang dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia ( KDM ). Makalah ini membahas tentang Asupan keperawatan klien dengan masalah seksual fetitisma dan frontiteurisme yang didalamnya berisi tentang definisi masalah seksual fetitisme dam frontiteurisme beserta asuan keperawatannya. Apa yang berada dalam makalah ini sangat bermanfaat dan berguna terutama bagi seorang perawat.
Sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat membantu klien mendapatkan kembali kesehatannya melalui proses penyembuhan. Perawat memfokuskan asuhan pada kebutuhan kesehatan klien secara holistic, meliputi upaya untuk mengembalikan kesehatan emosi, spiritual dan sosial. Pemberi asuhan memberikan bantuan kepada klien dan keluarga klien dengan menggunakan energy dan waktu yang minimal. Selain itu, dalam perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat memberikan perawatan dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat dan sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatannya dilakukan dari yang sederhana sampai yang kompleks.

B.     TUJUAN
a. Tujuan umum
Makalah ini dibuat dengan tujuan agar mahasiswa / mahasiswi memiliki kemampuan konsep pemahaman sebagai tenaga perawat professional di bidang Keperawatan Jiwa II sehingga mampu menggunakan pendekatan proses keperawatan yang komprehensif yang mencakup bio, psiko, sosio, dan spiritual.
b. Tujuan khusus
Makalah ini dibuat dengan tujuan agar mahasiswa/i dapat memahami pengertian prilaku kekerasan seksualitas, rentang respon, jenis- jenis kekerasan seksualitas, factor presipitasi, factor predisposisi, sumber koping, mekanisme koping, dan proses keperawatan prilaku kekerasan seksualitas.





BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    FETITISME
a.       DEFINISI
Fetisisme merupakan kelainan yang menggunakan benda non-seksual, benda mati atau bagian dari tubuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seks. Dengan menggunakan benda-benda mati seperti pakaian, stoking, sepatu bertumit tinggi atau alat kelamin bagian tubuh individu mendapat kepuasan seksual.
b.      Penyebab Fetitisme
Penyebab fetisisme tidak jelas dipahami. Beberapa teori pembelajaran percaya bahwa itu berkembang dari pengalaman anak usia dini, di mana objek dikaitkan dengan bentuk yang sangat kuat dari gairah seksual atau gratifikasi. Teori belajar lainnya tidak akan fokus pada anak usia dini, tetapi pada masa kanak-kanak kemudian dan remaja dan pengkondisian yang terkait dengan aktivitas masturbasi. Teori psikoanalisis fokus pada konsep kausalitas ibadah penis dan kecemasan kastrasi. Para peneliti telah menunjukkan bahwa dalam fetishists umum memiliki keterampilan sosial yang kurang berkembang, cukup terisolasi dalam kehidupan mereka dan memiliki kapasitas berkurang untuk membangun keintiman.
c.       Gejala Fetitisme
Tindakan seksual fetishists memiliki karakteristik depersonalized dan diobjekkan. Fokus perhatian secara eksklusif pada fetish, sedangkan non-fetishists mungkin di berbagai kali membuat bagian tubuh tertentu atau suatu bagian objek gairah seksual mereka secara umum dan ekspresi dengan orang lain, tetapi tidak terpaku pada itu.

B.     FROTTEURISME
a.       DEFINISI
Frotteurisme adalah suatu bentuk kelainan seksual di mana seseorang laki-laki mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosok-gosok alat kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik / umum.

b.      Gejala Frotteurisme
·         Memperoleh kepuasan saat melakukan "gesekan"
·         Kecanduan untuk melakukannya berulang-ulang

c.       Penyebab Frotteurisme







C.            FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SEKSUALITAS

1. Pertimbangan Perkembangan :
·         Proses perkembangan manusia mempengaruhi aspek psikososial, emosional dan biologik kehidupan yang selanjutnya akan mempengaruhi seksualitas individu
·         Hanya aspek seksualitas yang telah dibedakan sejak fase konsepsi
2. Hidup Kebiasaan Sehat dan Kondisi Kesehatan :
·         Tubuh, jiwa dan emosi yang sehat merupakan persyaratan utama untuk dapat mencapai kepuasan seksual
·         Trauma atau stress dapat mempengaruhi kemampuan individu untuk melakukan kegiatan atau fungsi kehidupan sehari-hari yang tentunya juga mempengaruhi ekspresi seksualitasnya, termasuk penyakit
·         Kebiasaan tidur, istirahat, gizi yang adekuat dan pandangan hidup yang positif mengkontribusi pada kehidupan seksual yang membahagiakan
3. Peran dan Hubungan :
·         Kualitas hubungan seseorang dengan pasangan hidupnya sangat mempengaruhi kualitas hubungan seksualnya
·         Cinta dan rasa percaya merupakan kunci uatama yang memfasilitasi rasa nyaman seseorang terhadap seksualitas dan hubungan seksualnya dengan seseorang yang dicintai dan dipercayainya
·         Pengalaman dalam berhubungan seksual seringkali ditentukan oleg dengan siapa individu tersebut berhubungan seksual
4. Konsep Diri :
·         Pandangan individu terhadap dirinya sendiri mempunyai dampak langsung terhadap seksualitas
5. Budaya, Nilai dan Keyakinan :
·         Faktor budaya, termasuk pandangan masyarakat tentang seksualitas dapat mempengaruhi individu
·         Tiap budaya mempunyai norma-norma tertentu tentang identitas dan perilaku seksual
·         Budaya turut menentukan lama hubungan seksual, cara stimulasi seksual dan hal lain terkait dengan kegiatan seksual
6. Agama :
·         Pandangan agama tertenmtu yang diajarkan, ternyata berpengaruh terhadap ekspresi seksualitas seseorang
·         Berbagai bentuk ekspresi seksual yang diluar kebiasaan, dianggap tidak wajar
·         Konsep tentang keperawanan dapat diartikan sebagai kesucian dan kegiatan seksual dianggap dosa, untuk agama tertentu
7. Etik :
·         Seksualitas yang sehat menurut Taylor, Lilis & Le Mone (1997) tergantung pada terbebasnya individu dari rasa berssalah dan ansietas
·         Apa yang diyakini salah oleh seseorang, bisa saja wajar bagi orang lain




BAB III
TINJAUAN ASUPAN KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pa pasien (Nursalam,2001)

Tahap pengkajian terdiri dari:
1.      Pengumpulan data
Merupakan kegiatan dalam penghimpunan informasi (data-data) dari klien yang meliputi biopsiko spiritual yang kompeherensif.
a.       Gejala Fetitisme: memperoleh kepuasan dengan menggunakan benda-benda mati.
Gejala Froteurisme: memperoleh kepuasan dengan menggesek-gesekkan alat kelamin.
b.      Penyebab Fetitisme: Penyebab fetisisme tidak jelas dipahami.
Penyebab Froteurisme:
c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi seksualitas:
·         Pertimbangan Perkembangan
·         Kebiasaan Hidup Sehat dan Kondisi Kesehatan
·          Peran dan Hubungan
·          Konsep Diri
·         Budaya, Nilai dan Keyakinan
·          Agama
·         Etik
2.      Pengelompokan Data
Data data yang telah di kumpulkan selanjutnya dikelompokan salah satu cara nya adalah teori Abraham Maslow yang berpendapat bahwa semua manusia mempunyai kebutuhan dasar umum yang terdiri dari beberapa tingkatan,dimana tingkatan kebutuhan dasar fisik harus terpenuhi lebih dahulu sebelum kebutuhan tingkat yang lebih tinggi.
B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
                        Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan dari masalah pasien yang nyata ataupun potensial dan membutuhkan tindakan keperawatan sehingga masalah pasien dapat di tanggulangi atau dikurangi.
1. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur dan fungsi tubuh, penganiayaan fisik (seksual), depresi
·       Tidak adanya hasrat untuk aktivitas seksual
·       Perasaan jijik, ansietas, panik sebagai respons terhadap kontak genital
·       Tidak adanya pelumasan atau sensasi subjektif dari rangsangan seksual selama aktivitas seksual
·       Kegagalan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis selama aktivitas seksual
·       Ketidakmampuan untuk mencapai orgasme atau ejakulasi
·       Ejakulasi prematur
·       Nyeri genital selama koitus
·       Kontriksi vagina yang mencegah penetrasi penis

C.     INTERVENSI

1.      Kaji riwayat seksual dan tingkat kepuasan sebelumnya dalam hubungan seksual.

Rasional: Hal ini menetapkan suatu data dasar untuk bekerja dan memberikan dasar untuk tujuan

2.      Kaji persepsi pasien trehadap masalah

Rasional: Ide pasien tentang apa yang merupakan suatu masalah mungkin berbeda dari ide perawat.ide adalah persepsi pasien yang darinya tujuan perawatan harus ditetapkan.

3.      Bantu pasien menetapkan dimensi waktu yang berhubungan dengan awaitan masalah dan diskusikan apa yang terjadi dalam situasi kehidupannya pada waktu itu.

Rasional: Stress pada beberapa are kehidupan mempengaruhi fungsi seksual. Pasien mungkin tidak menyadari hubungan antara stress dan disfungsi seksual.

4.      Kaji alam perasaan dan tingkat energi paien.

Rasional: Depresi dan kelelahan menurunkan hasrat dan antusisme untuk berpartisipasi dalam aktifitas seksual.

5.      Tinjau aturan pengobatan dan observasi efek samping.

Rasional: Banyaknya obat-obatan dapat mempengaruhi fungsi seksual. Evaluasi terhadap obat dan respon individu adalah penting untuk memastikan apakah obat tersebut mungkin menambah masalah.

6.      Anjurkan pasien untuk mendiskusikan proses penyakit yang mungkin menambah disfungsi seksual. Pastikan bahwa pasien menyadari ada altrenatif metode pencapaian kepuasan seksual dan dapat dilepajari melalui konseling seks jika pasien dan pasangannya berhasrat untuk malakukannya juga.

Rasional: pasien mungkin tidak menyadari bahwa kepuasan perubahan dapat dibuat dalam kehidupan seksnya. Dia mungkin juga tidak menyadari adanya sarana konseling seks.
7.      Dorong pasien untuk menanyakan hal-hal yang berkenaan dengan seksual dan fungsi yang mungkin menysahkan dirinya. Peningkatan pengetahuan dan membenarkan kesalahan konsep dapat menurunkan perasaan tidak berdaya dan ansietas dan memudahkan solusi masalah.

8.      Buat rujukan keterapi seks jika dibutuhkan.







Evaluasi berdasarkan kriteria hasil/pasien pulang:
1.      Pasien mampu menghubungakan faktor-faktor fisik atau psikososial yang mengganggu fungsi seksual.
2.       Pasien mampu berkomunikasi dengan pasanganya tentang hubungan seksual mereka tanpa merasa tidak nyaman.
3.       Pasien dan pasangannya mengatakan keingan dan hasrat untuk mencari bantuan dan terapist seks profesional.
4.       Pasien mengatakan kembali bahwa aktivitas seksualnya ada pada tahap yang memuaskan dirinya dan pasangan.







BAB IV
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Asuhan keperawatan pada klien dengan kelainan seksual fetitisme dan frotteurisme dilakukan dengan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan dan intervensi.
Pada umumnya berbagai macam bentuk kelainan seksual dipengaruhi oleh Pertimbangan Perkembangan, Kebiasaan Hidup Sehat dan Kondisi Kesehatan, Peran dan Hubungan,  Konsep Diri, Budaya, Nilai dan Keyakinan,  Agama, dan Etik.
B.     SARAN
Semoga makalah yang kami buat dapat bermanfaat bagi semua orang yang membacanya. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran khususnya dalam mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia 1, Selain itu diperlukan lebih banyak referensi dan penyusunan makalah yang lebih baik lagi.









DAFTAR PUSTAKA




Tidak ada komentar:

Posting Komentar