Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Oktober 2013

laporan pendahuluan GNA


a.           Pengertian

Glumerulonefritis akut [ GNA ] adalah penyakit yang menyerang glomeruli dari kedua ginjal, sebagai suatu reaksi imunologi terhadap bakteri atau virus tertentu.

GNA sering  ditemukan pada anak  umur 3-7 tahun, lebih sering pada pria.
Biasanya didahului oleh infeksi ekstrarenal, terutama di traktus respiratorius bagian atas dan kulit.

b.          Etiologi :

Faktor etiologinya  banyak dan bervariasi :
-    Reaksi imunologi : infeksi lupus erythematosus, streptococus.
-    Cedera vaskuler : Hipertensi, DM.
-    Koagulasi koagulan yang menyebar [ DIC ]

c.           Patofisiologi

GNA adalah  akibat reaksi antigen antibodi dengan jaringan glumerulus yang menimbulkan bengkak dan kematian  sel—sel kapiler [ epitel, membran lapisan bawah, dan endotelium.] Reaksi antigen antibodi mengaktifkan jalur komplemen yang berdampak chemotaksis kepada polymorfonuklear [ PMN ] lekosit  dan mengeluarkan ensim lisosomal yang menyerang  membran dasar glomerolus yang menimbulkan peningkatan respon  pada ketiga jenis sel glomerulus.

 Tanda  dan gejala  yang berefleksi kepada kerusakan glumerulus  dan terjadi kebocoran protein masuk kedalam urin [ proteinuri dan eritrosit / hematuri ]. Karena proses penyakit berlanjut terjadilah parut yang berakibat menurunnya filtrasi glumerulus  dan berdampak oliguri  dan retensi air, sodium dan produk sisa nitrogen. Kesemuanya ini berdampak meningkatnya volume cairan, edem, dan asotemia yang yang ditampilkan melalui napas pendek, edem  yang dependen, sakit kepala, lemah dan anoreksia.



d.          Gejala klinik

Gejala yang sering adalah hematuri ; kadang-kadang disertai edema ringan disekitar mata / seluruh tubuh umumnya edema berat terdapat pada oliguria dan bila payah jantung dan hipertensi.
Bila terjadi kerusakan ginjal maka tekanan darah akan tinggi . Suhu tubuh tidak seberapa tinggi  tapi dapat tinggi pada hari pertama . Muntah tidak nafsu makan, konstipasi dan diare tidak jarang menyertai GNA.



Jumat, 28 Juni 2013

sap terbaru asma


SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)
Pokok pembahasan      : asma 
Sub pokok bahasan     :
1.      pengertian dari ASMA
2.      gejala-gejala ASMA
3.      pengendalian  ASMA
Sasaran                        : bapak-bapak dan ibu-ibu  yang menderita asma di tambak bayan 15
Tempat                                    : balaidesa tambak bayan
Waktu                          :30 menit


        I.            Latar belakang
Asma adalah suatu kondisi paru-paru yang kronis, yang ditandai dengan sulit bernafas. Saluran pernafasan penderita asma sangat sensitif dan memberi respon yang sangat berlebihan jika mengalami rangsangan dan gangguan. Saluran pernafasan tersebut bereaksi dengan cara menyempit dan menghalangi udara yang masuk, dan reaksi ini akan mengakibatkan salah satu dari gabungan gejala mulai dari batuk, sesak, nafas pendek, tersengal-sengal, hingga nafas yang berbunyi “ngik-ngik”.
Penyempitan atau hambatan tersebut disebabkan :
• Peradangan saluran pernafasan hingga merah,bengkak,mengeluarkan lendir berlebih dan menyempit.
• Bronkokonstriksi, yang berarti otot-otot yang melingkari saluran pernafasan mengetat,mengejang, dan mengerut.


     II.            Tujuan intruksional umum
Setelah mengikuti penyuluhan tentang penyakit asma ini diharapkan para warga tambak bayan 15 mengetahui informasi tentang penyakit asma
   III.            Tujuan intruksional khusus
Setelah mengikuti pendidikan kesehatan di harapkan anak remaja mampu:
1.      Mengetahui  apa pengertian dari ASMA
2.      Mengetahui gejala-gejala  ASMA
3.      Mampu mengendalian ASMA
  IV.            Metode
1.      Ceramah
2.      diskusi

     V.            Media
1.      Lifleat
2.      LCD

  VI.            Rencana pembahasan
No
Kegiatan
Waktu
Kegiatan audiens
1
Pembukaan
*      Memberi salam
*      Perkenalan
*      Menjelaskan maksut dan tujuan
*      Mengkaji tingkat pengetahuan sasaran terhadap materi yang akan di berikan dengan persepsi ataupun secara lisan


5 menit
*      Menjawab salam
*      Mendengarkan
*      Mendengarkan

*      Menjawab pertanyaan
2
Pelaksanaan
*      Menjelaskan pada sasaran tentang pengertian asma
*      Menjelaskan  gejala-gejala ASMA
*      Menjelaskan tentang pengendalian ASMA
15 menit
*      Mendengarkan



*      Mendengarkan



*      Mendengarkan


*      bertanya
3
penutup
*      menimpulkan materi
*      memberikan pertanyaan evaluasi
*      mengucapkan salam penutup
10 menit
*      mendengarkan

*      menjawab

*      menjawab salam




VII.            Materi
1.      DEFINISI:
Asma adalah suatu kondisi paru-paru yang kronis, yang ditandai dengan sulit bernafas. Saluran pernafasan penderita asma sangat sensitif dan memberi respon yang sangat berlebihan jika mengalami rangsangan dan gangguan. Saluran pernafasan tersebut bereaksi dengan cara menyempit dan menghalangi udara yang masuk, dan reaksi ini akan mengakibatkan salah satu dari gabungan gejala mulai dari batuk, sesak, nafas pendek, tersengal-sengal, hingga nafas yang berbunyi “ngik-ngik”.
Penyempitan atau hambatan tersebut disebabkan :
• Peradangan saluran pernafasan hingga merah,bengkak,mengeluarkan lendir berlebih dan menyempit.
• Bronkokonstriksi, yang berarti otot-otot yang melingkari saluran pernafasan mengetat,mengejang, dan mengerut.

Jika kita melihat strukturnya parp-paru kita seperti pohon yang terbalik. Udara masuk melalui hidung dan mulut udara tersebut melewati sudut bagian belakang tenggorokan dan masuk ke dalam paru-paru melalui tenggorokan dan trakea. Trakea lalu bercabang membentuk bronki dan akan bercabang lagi jadi lebih kecil lagi. Dn yang kecil itu tadi dinamakan bronkiole, dan ini berujung pada kantung udara yang disebut alveoli. Pada alveoli ini terjadi proses pertukaran udara. Darah dari paru-paru bersirkulasi melalui alveoli mengambil O2 dan membuang CO2 lalu jantung memompa darah yg pnuh O2 dan disebarkan ke seluruh tubuh. Aktivitas kita bernafas adalah proses pengambilan O2 dan menghantarkan hingga ke alveoli.

Tapi saluran tersebut bukan hanya sekedar terowonagn tetapi juga sebagai front terdepan mekanisme pertahanan tubuh. Paru-paru memiliki permukaan yang terekspose pada dunia luar, yang wilayahnya jauh lebih luas dibanding bagian tubuh yang lain, termasuk kulit. Sehingga saluran ini juga harus berfungsi mengusir kotoran,debu, tungau,dan bakteri yang merugikan. Mekanisme pertahanann yang lain adalah batuk.

2.      Saluran pernafasan yang normal dan proses bernafas

Udara masuk ke paru-paru melalui trakea kemudian melewati bronkiole hingga ke alveoli. O2 masuk ke pembulu darah O2 tersebut meletakan diri ke sel darah merah dan dibawa pembuluh darah ke seluruh tubuh.
Bronkokonstriksi
Otot polos berkonstraksi dan mempersempit jalan udara karena peradangan atau terpapar stimulus seperti debu.
Asma dibagi 2 yaitu:
a.       Asma ekstrinsik
Bentuk asma yang paling umum dan disebabkan karena reaksi alergi penderitanya terhadap hal-hal tertentu, yang tidak berpengaruh terhadap mereka yang seha.
b.      Asma instrinsik
Asma yang disebabkan oleh stres, infeksi, dan kondisi lingkungan seperti cuaca, dan juga oleh aktivitas olahraga yang berlebihan. Dan jenis ini berhubungan dengan menurunnya kondisi ketahanan tubuh terutama pada mereka yang mempunyai riwayat paru-paru yang kurang baik.

3.      Tanda-tanda dan gejala
Beberapa contoh tanda peringatan awal :
a)      Perubahan dalam pola pernafasan
b)      Bersin-bersin
c)      Perubahan suasana hati
d)      Hidung mampet
e)      Batuk      
f)       Gatal pada tenggorokan
g)      Merasa lelah
h)      Lingkar hitam dibawah mata

Gejala-gejala asma:
a)      Serangan batuk yang hebat, nafas berat “ngik-ngik”, tersengal-sengal, sesak dada.
b)      Susah berbicara dan berkonsentrasi.
c)      Nafas jadi dangkal dan cepat atau lambat dibanding biasanya.
d)      Lubang hidung mengembang setiap tarikan nafas.
e)      Bayangan abu-abu atau membiru pada kulit dimulai dari sekitar mulut.

4.      Mengendalikan asma
Tiga jalur pertahanan terhadap asma :
1) Mengatur lingkungan hidup penderita asma (kendalikan pemicu).
2) Mengatur kesejahteraan saluran pernafasan agar saluran tersebut kurang sensitiv.
3) Atur serangan asma (kenali datangnya serangan).

5.      Evaluasi
1.      Pertanyaan tentang materi (apa, kenapa, apa saja pengendalian asma)
2.      Observasi utuk melihat apakah bapak-bapak dan ibu-ibu yang menderita asma telah memahami tentang asama.



1.      Evaluasi struktur
a)      Menyiapkan SAP
b)      Menyiapkan materi dan media
c)      Kontrak waktu dengan sasaran
d)      Menyiapkan tempat
e)      Menyiapkan pertanyaan

2.      Evaluasi proses
a.       Sasaran memperhatikan dan mendengarkan selama peyuluhan
b.      Sasaran aktif bertanya bila ada hal yang belum di mengerti
c.       Sasaran mmberi jawaban atas pertanyaan pemberi materi
d.      Sasaran tidak meninggalkan tempat saat penyuluhan berlangsung
e.       Tanya jawab berjalan dengan baik

3.      Evaluasi hasil
a.       Penyuluhan dikatakan berhasil apabila sasaran mampu menjawab pertanyaan 80% dengan benar
b.      Penyuluhan dikatakan cukup hasil/cukup baik sasaran mampu menjawab pertanyaan antara 50-80% dengan benar
c.       Penyuluhan dikatakan kurang berhasil/tidak berhsil apabila sasaran hanya mampu menjawab 50% saja denan benar.

Selasa, 12 Maret 2013

KOSEPTUAL MODEL KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA |||wirahusada


Ada 6 macam model :
Psikoanalisa
Interpersonal
Social
Existensial
Supportive therapy
Medical


Model psikoanalisis (Freud, Ericson)
Gangguan jiwa terjadi akibat :
Perkembangan diri: Artinya gangguan jiwa dapat terjadi karena perkembangan seseorang ketika masih kecil/kanak –kanak atau kasus yang terjadi adalah akibat masa lalu
Resolusi konflik perkembangan yang inadequate : Artinya gangguan jiwa terjadi karena seseorang tidak dapat menyelesaikan masalahnya di masa lalu dengan baik, sehingga muncul ketidakpuasan
Ego (akal) tidak dapat mengontrol id (kehendak nafsu atau insting)
Gejala – gejala yang muncul adalah hasil usaha untuk berkompromi dengan kecemasan dan berhubungan dengan konflik yang tidak teratasi
Psikoanalisa sampai saat ini dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner dibidang psikologi
Hipotesis psikoanalisis menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebagian besar ditentukan oleh motif – motif tak sadar, sehingga Freud dijuluki sebagai bapak penjelajah dan pembuat peta ketidaksadaran manusia

Proses terapi
Asosiasi bebas
Pada teknik terapi ini, penderita didorong untuk membebaskan pikiran dan perasaan dan mengucapkan apa saja yang ada dalam pikirannnya tanpa penyuntingan atau penyensoran (Akinson, 1991). Pada teknik ini penderita disupport untuk bias berada dalam kondisi relaks baik fisik maupun mental dengan cara tidur di sofa. Ketika penderita dinyatakan sudah berada dalam keadaan relaks maka pasien harus mengungkapkan hal yang dipikirkan pada saat itu secara verbal

Analisa mimpi
Terapi dilakukan dengan mengkaji mimpi – mimpi pasien, karena mimpi timbul akibat respon/memori bawah sadarnya. Mimpi umumnya timbul akibat permasalahan yang selama ini disimpan dalam alam bawah sadar yang selama ini ditutupi oleh pasien. Dengan mengkaji mimpi dan alam bawah sadar klien maka konflik dapat ditemukan dan diselesaikan

Transferen
Untuk memperbaiki traumatik masa lalu
Peran pasien dan perawat
Klien mengungkapkan semua pikiran dan mimpinya
Perawat melakukan assessment atau pengkajian tentang keadaan traumatic atau stressor yang dianggap bermakna pada masa lalu (pernah disiksa orang tua, diperkosa pada masa kanak – kanak, ditelantarkan dll) dengan pendekatan komunikasi traumatic setelah terjalin trust (saling percaya)

Interpersonal Model
(Sullivan, Peplau)


Gangguan jiwa bias muncul karena adanya ancaman, ancaman menimbulkan kecemasan (anxiety). Ansietas timbul dan dialami seseorang akibat adanya konflik saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal)

Perasaan takut seseorang didasari adanya ketakutan ditolak atau tidak diterima oleh orang disekitarnya misalnya : unwanted child

Proses terapi
Build Feeling Security
Berupaya membangun rasa aman bagi klien
Trusting relationship and interpersonal satisfaction
Menjalin hubungan saling percaya dan membina kepuasan dalam bergaul dengan orang lain sehingga klien merasa berharga dan dihormati.

Peran pasien dan perawat
Klien melakukan share anxieties (sharing kepada perawat tentang apa – apa yang dirasakan klien, apa yang biasa dicemaskan oleh klien saat berhubungan dengan orang lain)
Perawat berupaya bersikap empati dan turut merasakan apa – apa yang dirasakan klien. Perawat memberikan respon verbal yang mendorong rasa aman klien dalam berhubungan dengan orang lain

Social Model
(Caplan, Szasz)

Gangguan jiwa/penyimpangan perilaku karena banyaknya factor social dan factor lingkungan yang memicu munculnya stress pada seseorang
Akumulasi stressor yang ada dilingkungan (bising, macet, iklim sangat dingin/panas dll) akan mencetuskan stress pada individu
Stressor dari lingkungan diperparah oleh stressor dalam hubungan social (misalkan : anak nakal, atasan galak, istri cerewet dll)

Proses terapi
Environment manipulation and social support
Modifikasi lingkungan dan adanya dukungan social missal : rumah harus bersih, teratur, harum, tidak bising, ventilasi cukup, penataan alat dan perabot yang teratur

Peran pasien dan perawat
Klien menyampaikan masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat melibatkan teman sejawat, atasan, keluarga atau suami istri
Perawat berupaya menggali system social klien seperti suasana rumah, kantor, sekolah, masyarakat atau tempat kerja

Existensial model
(Ellis, Roger)

Gangguan jiwa atau gangguan perilaku terjadi bila individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya, individu tidak memiliki kebanggaan akan dirinya membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam body imagenya
Seringkali individu merasa asing dan bingung dengan dirinya sendiri, sehingga pencarian makna kehidupannya (eksistensinya) menjadi kabur

Individu tidak bisa menjawab pertanyaan
- siapakah saya ini sebenarnya?
- Apa tujuan saya lahir ke dunia ini?
- Apa kelebihan dan kekurangan saya?
- Bagaimana seharusnya saya bersikap agar orang lain menyukai saya?
- Apa pegangan hidup saya?
- Norma mana yang saya anut?

Proses terapi
Experience in relationship
Mengupayakan individu agar berpengalaman bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain yang dianggap sukses atau dianggap bias menjadi panutan

Self assessment
Memperluas kesadaran diri dengan cara introspeksi

Conducted in group
Bergaul dengan kelompok social dan kemanusiaan

Encourage to accept self and control behavior
Mendorong untuk menerima jati dirinya sendiri dan menerima kritik atau feedback tentang perilakunya dari orang lain

Peran pasien dan perawat
Klien berperan serta dalam memperoleh pengalaman yang berarti untuk mempelajari dirinya dan mendapatkan feedback dari orang lain, misalnya melalui terapi aktivitas kelompok
Perawat berusaha memperluas kesadaran diri klien melalui feedback, kritik, saran atau reward dan punishment

Supportive therapy model
Wermon, Rockland

Gangguan jiwa disebabkan oleh factor biopsikososial dan respon maladaptive terhadap stressor saat ini
Aspek biologis : sering sakit maag, migraine, batuk –batuk
Aspek psikologis : mudah cemas, kurang percaya diri, pemarah, perasaan bersalah
Aspek social : susah bergaul, menarik diri, tidak disukai, tidak mampu mendapat pekerjaan
Stressor saat ini : PHK, test masuk kerja

Manifestasi gangguan jiwa muncul akibat ketidakmampuan dalam beradaptasi pada masalah – masalah yang muncul saat ini dan tidak ada kaitannya dengan masa lalu. Ketidakmampuan beradaptasi dan menerima apapun hasilnya setelah berupaya maksimal, menyebabkan individu menjadi stress.

Proses terapi
Menguatkan respon koping adaptif individu diupayakan mengenal terlebih dahulu kekuatan dirinya dan kekuatan mana yang bias dipakai alternative pemecahan masalahnya.

Peran pasien dan perawat
Klien terlibat dalam identifikasi koping yang dimiliki dan biasa dipakai klien
Perawat berupaya menjalin hubungan yang hangat dan empatik dengan klien untuk menyiapkan koping klien yang adaptif.

Medical model
(Meyer, Kraeplin)

Gangguan jiwa muncul akibat multifactor yang kompleks meliputi : aspek fisik, genetic, lingkungan dan factor social
Focus penatalaksanaan harus lengkap meliputi pemeriksaan diagnostic, terapi somatic, farmakologik dan teknik interpersonal
Perawat berperan dalam berkolaborasi dengan tim medis dalam melakukan prosedur diagnostic dan terapi jangka panjang
Terapis berperan dalam pemberian terapi, laporan mengenai dampak terapi, menentukan jenis pendekatan terapi yang dilakukan.

Minggu, 20 Januari 2013

makalah fisika

KATA PENGANTAR


Puji syukur kepada ALLAH SWT atas berkat rahmat dan karunia-Nya yang dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis dapat berhasil menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “ENDOSKOP, USG, DAN KELISTRIKAN PADA JANTUNG”.
Penulis membuat makalah ini dengan maksud memenuhi salah satu tugas mata kuliah FISIKA.
Di dalam pembuatan makalah ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada :
1.      Bpk Drs.Sihnarwan selaku dosen Mata Kuliah fisika yang memberi kesempatan bagi penulis untuk menyelesaikan makalah ini.
2.      Kedua orangtua yang telah mendukung maupun memberi materi sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
3.      Teman-teman yang telah membantu,menyemangati penulis dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam penulisan maupun dalam penyusunan makalah ini, mengingat kemampuan yang terbatas serta sempitnya pengetahuan dan bimbingan dari berbagai pihak, maka akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi teman-teman maupun semua pihak yang membutuhkannya. penulis juga menyadari kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka diharapkan kritik dan sarannya yang membangun demi kesempurnaan makalah ini sangat penulis harapkan.
      

                                                Yogyakarta,   Desember 2011
                                                                                                            peyusun



DAFTAR ISI
Kata Pengantar............................................................................................................................ i
Daftar Isi.................................................................................................................................... ii
BAB I......................................................................................................................................... 1
Pendahuluan........................................................................................................................... 1
A.     Latar Belakang............................................................................................................. 1
B.      Tujuan Penulisan.......................................................................................................... 1
C.      Manfaat........................................................................................................................ 2
BAB II....................................................................................................................................... 3
Endoscope .......................................................................................................................... 3
II.    Konsep Utama dan Definisi........................................................................................ 3
III.   Sistem Perilaku........................................................................................................... 3
A.     Subsistem........................................................................................................ 4
B.     Model Konsep dan Teori Keperawatan Johnson............................................ 4
C.     Asumsi - Asumsi............................................................................................. 5
IV. Studi Kasus................................................................................................................... 6
Daftar Pustaka......................................................................................................................... 8





BAB I
PENDAHULUAN

                    A.        LATAR BELAKANG
        Pada dasarnya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang sadar akan status kesehatanya.
Namun kebanyakan masyarat di Indonesia belum tentu paham tentang ilmu kedokteran.
Mereka pun juga sulit mengartikan apa penyakit apa yang terdapat di selebaran kertas yang di berikan setelah pemeriksaan di rumah sakit.
        Penulis membuat makalah ini dengan maksud untuk memberi pengetahuan bagi masyarakat  agar masyarakat dapat mengetahui apa yang di maksudkan dalam masalah masalah tentang ilmu kedokteran dalam hal endoskop,usg, dan kelistrikan pada jantung.

Persiapan dan pelaksanaa
1.      Lakukan informed consent
2.      Anjurkan untuk puasa makan dan minum 8-12 jam sebelum pemeriksaan USG aorta abdomen, kandung empedu, hepar, limpa dan pankreas.
3.      Oleskan jeli konduktif pada permukaan kulit yang akan dilakukan USG
4.      Transduser dipegang dengan tangan dan gerakkan ke depan dan ke belakang di atas permukaan kulit.
5.      Lakukan anatra 10-30 menit
6.      Premedikasi jarang dilakukan hanya bila pasien dalam keadaan gelisah
7.      Pasien tidak boleh merokok sebelum pemeriksaan untuk mencegah masuknya udara.
8.      Bila pada pemeriksaan obstetrik (trimester pertama dan kedua), pelvis dan ginjal pasien dianjurkan untuk minum 4 gelas air dan tidak boleh berkemih sementara untuk trimester ketiga, pemeriksaan pada pasien dilakukan pada saat kandung kemih kosong.
9.      Bila pada otak lepaskan semua perhiasan dari leher dan jepit rambut dari kepala.
10.  Bila pada jantung anjurkan untuk bernapas perlahan dan menahan setelah inspirasi dalam.



                     B.        TUJUAN
      Ingin mengetahui lebih dalam tentang endoskop,usg,serta kelistrikan pada jantung.
                     C.        MANFAAT
1.      Bagi penulis
      Dapat mengetahui tentang ilmu endoskop,usg,serta kelistrikan pada jantung.
2.      Bagi pembaca
      Dapat menambah pengetahuan tentang endoskop,usg,serta kelistrikan pada            jantung.
3.      Bagi almamater
Dapat memberikan contoh buat geerasi generasi berikutnya.




















BAB II
PEMBAHASAN
1.    ENDOSCOP
A.    DEFINISI ENDOSKOP
Endoskop merupakan alat yang digunakan untuk memeriksa bagian atau organ dalam tubuh melalui pembuluh, saluran, dan celah-celah yang sempit di beberapa bagian tubuh. Dan kini, sebuah mikrokamera baru telah dikembangkan untuk menutupi kelemahan dari endoskop yang ada. Endoskop yang ada sampai saat ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu selain harganya yang mahal, waktu yang terbuang untuk membersihkannya cukup lama, pun diperlukan kecermatan yang tinggi saat membersihkannya, karena endoskop dipakai untuk kegunaan yang berbeda-beda.
Masalah ini bisa diselesaikan dengan mikrokamera baru yang telah dikembangkan oleh Fraunhofer Institute for Reliability and Microintegration (IZM) di Berlin, Jerman, bersama Awaiba GmbH, dan didukung oleh Fraunhofer Institute for Applied Optics and Precision Engineering IOF di Jena, Jerman. “Kami dapat memproduksi mikrokamera yang begitu murah dengan teknologi kami, dimana para dokter juga dapat langsung membuang endoskop sekali pakai ini begitu selesai menggunakannya,” ujar Martin Wilke, seorang ilmuwan dari Fraunhofer Institute for Reliability and Microintegration.
Para peneliti di Fraunhofer Institute for Reliability and Microintegration telah membuat proses ini menjadi lebih efisien dengan mengembangkan cara baru untuk mengakses hubungan listriknya. Kini proses pemasangan kebelnya menjadi lebih cepat dan keseluruhan sistem kameranya menjadi lebih kecil. Mikrokamera baru ini cukup kecil untuk menjadi ujung endoskop. Mikrokamera ini memiliki resolusi sebesar 62.500 piksel dan mengirimkan gambar yang berupa informasi melalui endoskop via kabel listrik. Stephan Voltz, yang merupakan CEO dari Awaiba GmbH mengatakan bahwa ukuran mikrokamera tersebut sebesar 1,0 x 1,0 x 1,0 milimeter, kamera ini sekecil butiran kasar garam pasir, kamera terkecil yang pernah disadari. “Mulai tahun 2012, dengan keahlian Fraunhofer, kami akan mampu membawa endoskop sekali pakai ini ke pasaran hanya dengan beberapa euro, kami telah memiliki contoh aslinya,” jelas Voltz.

2.    USG

        A.        Pengertian
USG adalah suatu alat dalam dunia kedokteran yang memanfaatkan gelombang ultrasonik, yaitu gelombang suara yang memiliki frekuensi yang tinggi (250 kHz - 2000 kHz) yang kemudian hasilnya ditampilkan dalam layar monitor Pada awalnya penemuan alat USG diawali dengan penemuan gelombang ultrasonik kemudian bertahun-tahun setelah itu, tepatnya sekitar tahun 1920-an, prinsip kerja gelombang ultrasonik mulai diterapkan dalam bidang kedokteran. Penggunaan ultrasonik dalam bidang kedokteran ini pertama kali diaplikasikan untuk kepentingan terapi bukan untuk mendiagnosis suatu penyakit.
Teknologi transduser digital sekira tahun 1990-an memungkinkan sinyal gelombang ultrasonik yang diterima menghasilkan tampilan gambar suatu jaringan tubuh dengan lebih jelas. Penemuan komputer pada pertengahan 1990 jelas sangat membantu teknologi ini. Gelombang ultrasonik akan melalui proses sebagai berikut, pertama, gelombang akan diterima transduser. Kemudian gelombang tersebut diproses sedemikian rupa dalam komputer sehingga bentuk tampilan gambar akan terlihat pada layar monitor. Transduser yang digunakan terdiri dari transduser penghasil gambar dua dimensi atau tiga dimensi. Seperti inilah hingga USG berkembang sedemikian rupa hingga saat ini.
Ultrasonography adalah salah satu dari produk teknologi medical imaging yang dikenal sampai saat ini Medical imaging (MI) adalah suatu teknik yang digunakan untuk mencitrakan bagian dalam organ atau suatu jaringan sel (tissue) pada tubuh, tanpa membuat sayatan atau luka (non-invasive). Interaksi antara fenomena fisik tissue dan diikuti dengan teknik pendeteksian hasil interaksi itu sendiri untuk diproses dan direkonstruksi menjadi suatu citra (image), menjadi dasar bekerjanya peralatan MI.

B.      Tujuan persiapan USG
Tujuan USG adalah untuk membantu mendiagnosis perkembangan janin pada setiap trimester. Hal itu sangat ditekankan oleh dr. Rudiyanti, Sp.OG. Dijelaskan olehnya, pada kehamilan trimester pertama tujuan USG adalah meyakinkan adanya kehamilan, menduga usia kehamilan dengan mencocokkan ukuran bayi, menentukan kondisi bayi jika ada kemungkinan kelainan bawaan, menentukan penyebab perdarahan atau bercak darah dini pada kehamilan muda (misalnya kehamilan ektopik), menentukan lokasi janin apakah di dalam atau di luar rahim, menentukan kondisi janin jika tidak ada denyut jantung atau pergerakan janin, dan mendiagnosis adanya janin kembar.
Sedangkan di trimester kedua dan ketiga adalah untuk menilai jumlah air ketuban, menentukan kondisi plasenta, menentukan ukuran janin, memeriksa kondisi janin lewat pengamatan aktivitasnya, menentukan letak janin apakah sungsang atau terlilit tali pusat, serta untuk melihat kemungkinan adanya tumor.

C.     Persiapan alat dan bahan
Perawatan peralatan yang baik akan membuat hasil pemeriksaan juga tetap baik. Hidupkan peralatan USG sesuai dengan tatacara yang dianjurkan oleh pabrik pembuat peralatan tersebut. Panduan pengoperasian peralatan USG sebaiknya diletakkan di dekat mesin USG, hal ini sangat penting untuk mencegah kerusakan alat akibat ketidaktahuan operator USG.
Perhatikan tegangan listrik pada kamar USG, karena tegangan yang terlalu naik-turun akan membuat peralatan elektronik mudah rusak. Bila perlu pasang stabilisator tegangan listrik dan UPS.
Setiap kali selesai melakukan pemeriksaan USG, bersihkan semua peralatan dengan hati-hati, terutama pada transduser (penjejak) yang mudah rusak. Bersihkan transduser dengan memakai kain yang lembut dan cuci dengan larutan anti kuman yang tidak merusak transduser (informasi ini dapat diperoleh dari setiap pabrik pembuat mesin USG).
Selanjutnya taruh kembali transduser pada tempatnya, rapikan dan bersihkan kabel-kabelnya, jangan sampai terinjak atau terjepit. Setelah semua rapih, tutuplah mesin USG dengan plastik penutupnya. Hal ini penting untuk mencegah mesin USG dari siraman air atau zat kimia lainnya.
Agar alat ini tidak mudah rusak, tentukan seseorang sebagai penanggung jawab pemeliharaan alat tersebut.


D.    Persiapan Pemeriksaan Lingkungan
Cuci tangan sebelum dan setelah kontak langsung dengan pasien, setelah kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, dan setelah melepas sarung tangan, telah terbukti dapat mencegah penyebaran infeksi. Epidemi HIV telah menjadikan pencegahan infeksi kembali menjadi perhatian utama, termasuk dalam kegiatan pemeriksaan USG dimana infeksi silang dapat saja terjadi. Kemungkinan penularan infeksi lebih besar pada waktu pemeriksaan USG transvaginal karena terjadi kontak dengan cairan tubuh dan mukosa vagina.
Resiko penularan dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu tinggi, sedang, dan ringan. Resiko penularan tinggi terjadi pada pemeriksaan USG intervensi (misalnya punksi menembus kulit, membran mukosa atau jaringan lainnya); peralatan yang dipakai memerlukan sterilisasi (misalnya dengan autoklaf atau etilen oksida) dan dipergunakan sekali pakai dibuang.
Resiko penularan sedang terjadi pada pemeriksaan USG yang mengadakan kontak dengan mukosa yang intak, misalnya USG transvaginal; peralatan yang dipakai minimal memerlukan sterilisasi tingkat tinggi (lebih baik bila dilakukan sterilisasi).
Resiko penularan ringan ter adi pada pemeriksaan kontak langsung dengan kulit intak, misalnya USG transabdominal; peralatan yang dipakai cukup dibersihkan dengan alkohol 70% (sudah dapat membunuh bakteri vegetatif, virus mengandung lemak, fungisidal, dan tuberkulosidal) atau dicuci dengan sabun dan air

E.     Persiapan Pasien
Sebelum pasien menjalani pemeriksaan USG, ia sudah harus memperoleh informasi yang cukup mengenai pemeriksaan USG yang akan dijalaninya. Informasi penting yang harus diketahui pasien adalah harapan dari hasil pemeriksaan, cara pemeriksaan (termasuk posisi pasien) dan berapa biaya pemeriksaan.
Caranya dapat dengan memberikan brosur atau leaflet atau bisa juga melalui penjelasan secara langsung oleh dokter sonografer atau sonologist. Sebelum melakukan pemeriksaan USG, pastikan bahwa pasien benar-benar telah mengerti dan memberikan persetujuan untuk dilakukan pemeriksaan USG atas dirinya.
Bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal, tanyakan kembali apakah ia seorang nova atau nyonya?, jelaskan dan perlihatkan tentang pemakaian kondom yang baru pada setiap pemeriksaan (kondom penting untuk mencegah penularan infeksi).
Pada pemeriksaan USG transrektal, kondom yang dipasang sebanyak dua buah, hal ini penting untuk mencegah penyebaran infeksi.
Terangkan secara benar dan penuh pengertian bahwa USG bukanlah suatu alat yang dapat melihat seluruh tubuh janin atau organ kandungan, hal ini untuk menghindarkan kesalahan harapan dari pasien. Sering terjadi bahwa pasien mengeluh "Kok sudah dikomputer masih juga tidak diketahui adanya cacat bawaan janin atau ada kista indung telur?” USG hanyalah salah satu dari alat bantu diagnostik didalam bidang kedokteran. Mungkin saja masih diperlukan pemeriksaan lainnya agar diagnosis kelainan dapat diketahui lebih tepat dan cepat.

F.      Persiapan Pemeriksa
Pemeriksa diharapkan memeriksa dengan teliti surat pengajuan pemeriksaan USG, apa indikasinya dan apakah perlu didahulukan karena bersifat darurat gawat, misalnya pasien dengan kecurigaan kehamilan ektopik. Tanyakan apakah ia seorang nyonya atau nona, terutama bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal.
Selanjutnya cocokkan identitas pasien, keluhan klinis dan pemeriksaan fisik yang ada; kemudian berikan penjelasan dan ajukan persetujuan lisan terhadap tindak medik yang akan dilakukan.
Persetujuan tindak medik yang kebanyakan berlaku di Indonesia saat ini hanyalah bersifat persetujuan lisan, kecuali untuk tindakan yang bersifat invasif misalnya kordosintesis atau amniosintesis.
Dimasa mendatang tampaknya pemeriksaan USG memerlukan persetujuan tertulis dari pasien. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk mencegah penularan penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS dan penyakit menular seksual akibat semakin banyaknya seks bebas dan pemakaian narkoba.
Pemeriksa diharapkan juga agar selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan cara membaca kembali buku teks atau literatur-literatur mengenai USG, mengikuti pelatihan secara berkala dan mengikuti seminar-seminar atau pertemuan ilmiah lainnya mengenai kemajuan USG mutakhir. Kemampuan diagnostik seorang sonologist sangat ditentukan oleh pengetahuan, pengalaman dan latihan yang dilakukannya


      Kesimpulan
USG adalah suatu alat dalam dunia kedokteran yang memanfaatkan gelombang ultrasonik, yaitu gelombang suara yang memiliki frekuensi yang tinggi (250 kHz - 2000 kHz) yang kemudian hasilnya ditampilkan dalam layar monitor Pada awalnya penemuan alat USG diawali dengan penemuan gelombang ultrasonik kemudian bertahun-tahun setelah itu, tepatnya sekitar tahun 1920-an, prinsip kerja gelombang ultrasonik mulai diterapkan dalam bidang kedokteran. Penggunaan ultrasonik dalam bidang kedokteran ini pertama kali diaplikasikan untuk kepentingan terapi bukan untuk mendiagnosis suatu penyakit.

3.      KELISTRIKAN PADA JANTUNG

A.    Definisi
Kontraksi sel otot jantung terjadi oleh adanya potensial aksi yang dihantarkan sepanjang membrane sel otot jantung. Jantung akan berkontraksi secara ritmik, akibat adanya impuls listrik yang dibangkitkan oleh jantung sendiri: suatu kemampuan yang disebut ?autorhytmicity?. Sifat ini dimiliki oleh sel khusus otot jantung. Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung, yaitu: sel kontraktil dan sel otoritmik. Sel kontraktil melakukan kerja mekanis, yaitu memompa dan sel otoritmik mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan potensial aksi yang bertanggung jawab untuk kontraksi sel-sel pekerja.
Berbeda dengan sel saraf dan sel otot rangka yang memiliki potensial membrane istirahat yang mantap. Sel-sel khusus jantung tidak memiliki potensial membrane istirahat. Sel-sel ini memperlihatkan aktivitas ?pacemaker? (picu jantung), berupa depolarisasi lambat yang diikuti oleh potensial aksi apabila potensial membrane tersebut mencapai ambang tetap. Dengan demikian, timbulkah potensial aksi secara berkala yang akan menyebar ke seluruh jantung dan menyebabkan jantung berdenyut secara teratur tanpa adanya rangsangan melalui saraf.         
Mekanisme yang mendasari depolarisasi lambat pada sel jantung penghantar khusus masih belum diketahui secara pasti. Di sel-sel otoritmik jantung, potensial membaran tidak menetap antara potensia-potensial aksi. Setelah suatu potensial aksi, membrane secara lambat mengalami depolarisasi atau bergeser ke ambang akibat inaktivitasi saluran K+. pada saat yang sama ketika sedikit K+ ke luar sel karena penurunan tekanan K+ dan Na+, yang permeabilitasnya tidak berubah, terus bocor masuk ke dalam sel. Akibatnya, bagian dalam secara perlahan menjadi kurang negative; yaitu membrane secara bertahap mengalai depolarisasi menuju ambang. Setelah ambang tercapai, dan saluran Ca++ terbuka, terjadilah influks Ca++ secara cepat, menimbulkan fase naik dari potensial aksi spontan. Fase saluran K+. inaktivitasi saluran-saluran ini setelah potensial aksi usai menimbulkan depolarisasi lambat berikutnya mencapai ambang.
Sel-sel jantung yang mampu mengalami otoritmisitas ditemukan di lokasi-lokasi berikut:
  1. Nodus sinoatrium (SA), daerah kecil khusus di dinding atrium kanan dekat lubang vena kava superior.
  2. Nodus atrioventrikel (AV), sebuah berkas kecil sel-sel otot jantung khusus di dasar atrium kanan dekat septum, tepat di atas pertautan atrium dan ventrikel.
  3. Berkas HIS (berkas atrioventrikel), suatu jaras sel-sel khusus yang berasal dari nodus AV dan masuk ke septum antar ventrikel, tempat berkas tersebut bercabang membentuk berkas kanan dan kiri yang berjalan ke bawah melalui seputum, melingkari ujung bilik ventrikel dan kembali ke atrium di sepanjang dinding luar.
  4. Serat Purkinje, serat-serta terminal halus yang berjalan dari berkas HIS dan menyebar ke seluruh miokardium ventrikel seperti ranting-ranting pohon.
Berbagai sel penghantar khusus memiliki kecepatan pembentukkan impuls spontan yang berlainan. Simpul SA memiliki kemampuan membentuk impuls spontan tercepat. Impuls ini disebarkan ke seluruh jantung dan menjadi penentu irama dasar kerja jantung, sehingga pada keadaan normal, simpul SA bertindak sebagai picu jantung. Jaringan penghantar khusus lainnya tidak dapat mencetuskan potensial aksi intriksiknya karena sel-sel ini sudah diaktifkan lebih dahulu oleh potensial aksi yang berasal dari simpul SA, sebelum sel-sel ini mampu mencapai ambang rangsangnya sendiri.
Urutan kemampuan pembentukkan potensial aksi berbagai susunan penghantar khusus jantung yaitu:
©      Nodus SA (pemacu normal) : 60-80 kali per menit
©      Nodus AV : 40-60 kali per menit
©      Berkas His dan serat purkinje : 20-40 kali per menit

B.     CARA KERJA JANTUNG
Jantung bekerja melalui mekanisme secara berulang dan berlangsung terus menerus yang juga disebut sebagai sebuah siklus jantung sehingga secara visual terlihat atau disebut sebagai denyut jantung. Melalui mekanisme berselang-seling, jantung berkonstraksi untuk mengosongkan isi jantung dan melakukan relaksasi guna pengisian darah. Secara siklus, jantung melakukan sebuah periode sistol yaitu periode saat berkontraksi dan mengosongkan isinya (darah), dan periode diastol  yaitu periode yang melakukan relaksasi dan pengisian darah pada jantung. Kedua serambi mengendur dan berkontraksi secara bersamaan, dan kedua bilik juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan pula untuk melakukan mekanisme tersebut.
Sel otot jantung melakukan kontraksi dengan tujuan untuk memompa darah yang dicetuskan oleh sebuah potensi aksi dan menyebar melalui membrane sel otot. Ketika melakukan kontraksi, jantung menjadi berdenyut secara “berirama”, hal ini akibat dari adanya ptensi aksi yang ditimbulkan oleh kegiatan diri jantung itu sendiri. Kejadian tersebut diakibatkan karena  jantung memiliki sebuah mekanisme untuk mengalirkan listrik yang ditimbulkannya sendiri untuk melakukan kontraksi atau memompa dan melakukan relaksasi. Mekanisme aliran listrik yang menimbulkan aksi tersebut dipengaruhi oleh beberapa jenis elektrolit seperti K+, Na+, dan Ca++. Sehingga apabila didalam tubuh terjadi gangguan pada kadar elektrolit tersebut maka akan menimbulkan gangguan pula pada mekanisme aliran listrik pada jantung manusia.
Otot jantung menghasilkan arus listrik dan disebarkan ke jaringan sekitar jantung dan dihantarkan melalui cairan-cairan yang dikandung oleh tubuh. Sehingga sebagian kecil aktifitas listrik ini mencapai hingga ke permukaan tubuh misalnya pada permukaan dada, punggung atau pada pergelangan atas tangan, dan hal ini dapat dideteksi atau direkam dengan  menggunakan alat khusus yang disebut dengan ElectroKardioGram (EKG). Jadi fungsi EKG adalah merekam aktifitas listrik di cairan tubuh yang dirangsang oleh aliran listrik jantung yang muncul hingga mencapai permukaan tubuh. Berbagai komponen pada rekaman EKG dapat dikorelasikan dengan berbagai proses spesifik di jantung. EKG dapat digunakan untuk mendiagnosis kecepatan denyut jantung yang abnormal, gangguan irama jantung, serta kerusakan otot jantung. Ini disebabkan oleh karena adanya aktivitas listrik yang dapat memicu aktivitas secara mekanis, sehingga apabila terjadi kelainan pola listrik, maka biasanya juga akan disertai adanya kelainan mekanis atau otot jantung manusia.
Setiap darah yang kehabisan oksigen dan mengandung terlalu banyak darah kotor (carbondiocsida), dari seluruh tubuh mengalir melalui dua vena besar untuk menuju ventrikel kanan. Hal ini berlangsung setelah pada atrium kanan terisi darah, yang selanjutnya mendorong darah ke dalam ventrikel kanan. Selanjutnya dipompa melalui katub pulmoner ke dalam arteri pulmonalis dan menuju ke paru-paru. Dari paru-pari darah mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil yang disebut kapiler, dan mengelilingi kantong udara pada paru-paru dan menyerap oksigen untuk melepaskan karbondioksida guna mengalirkan darah ke dalam vena pulmonalis menju ke atrium kiri. Peredaran darah di antara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner. Ketika darah berada pada atrium kiri, selanjutnya didorong menuju ventrikel kiri, da selanjutnya akan memompa darah bersih melalui katup aurta masuk ke dalam aorta yang merupakan arteri terbesar dalam tubuh manusia. Pada darah yang kaya oksigen tersebut kecuali pada paru-paru, maka disediakan untuk kepentingan seluruh tubuh manusia.
















KESIMPULAN
Endocope dan Alat Doppler merupakan alat medis yang digunakan untuk mempermudah kerja medis yang menggunakan energi listrik.
Jantung merupakan organ terpenting dalam tubuh yang mengandung listrik sehingga jantung tetap berdetak/berdenyut.



















DAFTAR PUSTAKA

·         Musrifatul Uliyah, A.Aziz Alimul Hidayat, 2006, Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan, Jakarta : Salemba Medika
·         Reece EA, Assimakopoulos E, Zheng X, et al. The Safety of Obstetric Ultrasonography : concern for the fetus. Obstet Gynecol. 1990;76:139-146.